Mitraaspirasi || Kota Bandung - Nilai luhur dan pesan moral dari legenda populer Tanah Pasundan, Lutung Kasarung, kembali dipentaskan dan dihadirkan kepada publik dalam sebuah pertunjukan seni budaya yang digelar di Auditorium RRI Bandung, Jalan Dipenogori Nomor 61. "Acara berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 13.00 WIB, dan dihadiri langsung oleh Ketua serta jajaran pengurus Komunitas Pendengar RRI (KPRRI) sebagai bentuk apresiasi terhadap warisan budaya daerah.
Pementasan ini mengangkat kisah masa lalu Kerajaan Pasir Batang yang dipimpin oleh Prabu Tapa Agung. Sang Raja memiliki dua orang putri, yakni Putri Purbasari dan kakaknya, Putri Purbararang. Saat tiba waktunya menentukan penerus tahta, Prabu Tapa Agung memilih Purbasari karena dinilai memiliki karakter jujur, cerdas, dan bijaksana. Keputusan tersebut justru memicu rasa iri hati Purbararang, yang kemudian berniat merebut kekuasaan dengan cara licik.
Dengan bantuan ramuan dari seorang dukun, Purbararang meracuni adiknya sehingga kulit Purbasari penuh luka bernanah dan berbau busuk. Karena menganggap hal itu sebagai kutukan, Prabu Tapa Agung pun terpaksa menyerahkan tampuk kekuasaan kepada Purbararang, sementara Purbasari harus diasingkan ke dalam hutan belantara.
Di tengah kesendiriannya di hutan, Purbasari bertemu dengan seekor kera besar berbulu hitam yang setia menemaninya, yaitu Lutung Kasarung. Berkat kesabaran dan pertolongan makhluk tersebut, Purbasari dipandu untuk bersemedi dan membasuh diri di sebuah telaga keramat. Ajaibnya, seluruh penyakit dan noda di kulitnya hilang seketika, membuatnya kembali cantik dan bersinar seperti sedia kala.
Berita kesembuhan Purbasari akhirnya terdengar hingga ke telinga ayahnya. Sang Raja segera mengutus patih untuk menjemput putrinya kembali ke istana dan mengembalikannya sebagai pewaris sah kerajaan. Namun, Purbararang kembali menolak keputusan itu dan menantang adiknya untuk beradu keunggulan melalui pendamping masing-masing.
Purbararang datang dengan kekasihnya yang tampan dan mempesona. Sebaliknya, Purbasari berjalan berdampingan dengan Lutung Kasarung yang berpenampilan buruk rupa. Purbararang pun dengan angkuh menghina dan meremehkan pasangan Purbasari. Meski dicemooh, Purbasari tetap teguh pada pendiriannya dan menjunjung tinggi kebaikan hati serta kesetiaan Lutung Kasarung yang telah menolongnya.
Ketika kesabaran dan ketulusan hati Purbasari mencapai puncaknya, momen ajaib pun terjadi. Lutung Kasarung yang ternyata adalah titisan seorang Dewa, berubah wujud menjadi seorang ksatria muda yang sangat tampan dan berwibawa, bernama Pangeran Guruminda.
Melihat kejadian itu, Prabu Tapa Agung semakin yakin menunjuk Purbasari sebagai pemimpin yang sah. Purbararang pun akhirnya sadar akan kesalahannya, memohon maaf kepada adiknya, dan dimaafkan dengan tulus tanpa ada rasa dendam sedikit pun dari hati Purbasari.
Pementasan ini bukan sekadar hiburan semata, melainkan sarana pewarisan nilai luhur budaya Sunda. Dari kisah Lutung Kasarung ini, terdapat empat pesan utama yang dapat dijadikan teladan bagi kita semua:
1. Jujur, berprinsip, dan menjaga integritas dalam setiap tindakan.
2. Sabar dan pantang menyerah menghadapi cobaan hidup.
3. Selalu berbuat baik dan menolong sesama tanpa pamrih.
4. Menjadi pribadi pemaaf dan tidak memendam dendam.
Pertunjukan seni ini mendapat apresiasi tinggi dari seluruh anggota KPRRI Bandung yang hadir. Semoga kisah ini terus hidup dan menjadi inspirasi dalam menjaga keluhuran budaya dan akhlak mulia.
Bun,Dev/red